25 Januari 2012

Investasi yang baik di tahun naga



Aah sebetulnya ga peduli mo taon apa, mo taun kucing kek mo taon cacing kek,
taun ini sy malah ciong kok,
tapi... peduli apa? Maju perut pantat mundur...
kumpul ora kumpul, mangan jalan teruuus.... ^_^

Kalo seputar investasi, ada pertanyaan standar yg sering kita temui,
"Sy nubie, mo mulai investasi, gimana caranya?"
pertanyaan sederhana, jawabannya yg panjang

Daaan, nasehat terbaik u pertanyaan ini dimenangkan oleh,
(dudududududung.... eng ing eeeng...)
"Sediakan waktu u belajar"
(redaksi bole berbeda, intinya tetap sama...)

Simple answer 4 simple question...

Tapiiii.....
banyak orang yg salah kaprah dengan jawaban ini,
disangkanya intinya pada 'belajar',
bukan... sama sekali bukan...

intinya pada 'waktu' ....
investasi selalu berhubungan dengan waktu,
baik dalam kalimat, "investasi jangka pendek, jangka panjang, jangka menengah"
atau "berapa return pertahunnya?"
atau "berapa lama ngumpulin modalnya?"
atau "keuntungan ini hasil pengalaman berapa tahun?"

atau kalimat lain yg dianggap tidak terlalu berhubungan dengan investasi,
padahal berhubungan sekali...
"konser ini menampilkan hasil latihan sy selama 30 tahun"
"setelah menghabiskan 2 tahun u S2 akhirnya sy bisa naik golongan"
"bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian"
"bisa karena biasa"
"muda kaya-raya, tua foya-foya, mati masuk surga"

Tahukah rekan sekalian,
Kita bisa mendapatkan apapun yg kita inginkan selama ada cukup waktu

Selama ada waktu, kita bisa mengumpulkan modal,
mengumpulkan informasi, menemukan suplier, mempelajari, dsb

Masalahnya, dengan waktu yg tersisa, usia yg tersisa ini,
dengan aktivitas yg sama selama ini,
masih mungkinkah kita mendapatkan apa yg kita inginkan?

kalo membahas masalah finansial,
bisnis dan investasi adalah permainan tim,
bgitu kata kios aki ya?

artinya apa?
jangan habiskan waktu kita u melakukan segalanya sendirian,
bentuk tim kita dan mulailah membagi tugas dan bekerja sama,
sehingga waktu kita lebih produktif

Gimana caranya?
Biarkan anggota tim yg lebih expert u menggantikan kita,
kita berfokus melakukan ekspertise kita sendiri.
Satukan hasilnya dan lihatlah betapa besarnya yg bisa kita dapat

Lha, membentuk timnya gimana ceritanya?
"burung sejenis akan berkumpul bersama"
"dengan siapa Anda berkumpul saat ini, ke sana lah Anda menuju"
Mudahnya, ciptakan komunitas,
berkumpullah dengan orang2 yg kita ingin sperti mereka

Jadi kalo Anda ingin jadi manager di kantor, jangan kumpul sama OB...
kumpulnya sama manager2 biar 1 frekuensi
kumpul lho ya, bukan bersosialisasi, ntar ga ada yg mau nyapa OB ^_^

Quote Einstein u finansial biasanya yg ini yg dikutip "bunga majemuk adalah keajaiban dunia kedelapan"
tapi menurut sy yg lebih penting sebetulnya quote yg ini
"kegilaan adalah melakukan sesuatu dengan cara yg samadan berharap mendapatkan hasil yg berbeda" 

Selama gunung masih menghijau, jangan takut ga dapet kayu bakar.
Selama jantung masih berdetak, kesempatan masih terbuka
mengulang yg lama   -kip d spirit haih-


Seminar investasi yang diadakan oleh Tim Wealth Manager Association,
Penulis buku The Secret of Wealth Management

"Siapa Bilang Memulai Investasi Itu Sulit dan Butuh Modal Besar?"
Temukan jawabannya dalam seminar investasi dgn tema "Peluang Emas Berinvestasi di Tahun Naga"

Hari Sabtu : 4 February 2012Jam : 10.00-13.00
Tempat : Rukan Puri Mutiara Blok BF.No.15 Jl.Griya Sunter Jakarta Utara
Biaya : Rp.50.000 (termasuk makan siang)

Pendaftaran Hubungi : 02191601999 & 08557898086
TEMPAT TERBATAS

Nantikan acara-acara lainnya dari Wealth Manager Association,
dan bergabunglah dengan komunitasnya


"Sy kaya bukan karena memiliki segalanya,
sy kaya karena tidak memerlukan apa-apa lagi" - quote by Someone

18 Januari 2012

Inspirasi dari Presiden Ke-3 RI



KUNJUNGAN BAPAK BJ HABIBIE

Kantor Manajemen Garuda Indonesia

Garuda City Complex, Bandara Soekarno-Hatta

12 Januari 2012

Pada usianya 74 tahun, mantan Presiden RI, BJ Habibie secara mendadak mengunjungi fasilitas Garuda Indonesia didampingi oleh putra sulung, Ilham Habibie dan keponakannya(?), Adri Subono, juragan Java Musikindo.

Kunjungan beliau dan rombongan disambut oleh President CEO, Bapak Emirsyah Satar disertai seluruh Direksi dan para VP serta Area Manager yang sedang berada di Jakarta.

Dalam kunjungan ini, diputar video mengenai Garuda Indonesia Experience dan presentasi perjalanan kinerja Garuda Indonesia sejak tahun 2005 hingga tahun 2015 menuju Quantum Leap.

Sebagai “balasan” pak Habibie memutarkan video tentang penerbangan perdana N250 di landasan bandara Husein Sastranegara, IPTN Bandung tahun 1995 (tujuh belas tahun yang lalu!).

Entah, apa pasalnya dengan memutar video ini?

Video N250 bernama Gatotkaca terlihat roll-out kemudian tinggal landas secara mulus di-

escort oleh satu pesawat latih dan sebuah pesawat N235. Pesawat N250 jenis Turboprop dan teknologi glass cockpit dengan kapasitas 50 penumpang terus mengudara di angkasa Bandung.

Dalam video tsb, tampak para hadirin yang menyaksikan di pelataran parkir, antara lain Presiden RI Bapak Soeharto dan ibu, Wapres RI bapak Soedarmono, para Menteri dan para pejabat teras Indonesia serta para teknisi IPTN. Semua bertepuk tangan dan mengumbar senyum kebanggaan atas keberhasilan kinerja N250. Bapak Presiden kemudian berbincang melalui radio komunikasi dengan pilot N250 yang di udara, terlihat pak Habibie mencoba mendekatkan telinganya di headset yang dipergunakan oleh Presiden Soeharto karena ingin ikut mendengar dengan pilot N250.

N250 sang Gatotkaca kembali pangkalan setelah melakukan pendaratan mulus di landasan..................

Di hadapan kami, BJ Habibie yang berusia 74 tahun menyampaikan cerita yang lebih kurang sbb:

“Dik, anda tahu..............saya ini lulus SMA tahun 1954!” beliau membuka pembicaraan dengan gayanya yang khas penuh semangat dan memanggil semua hadirin dengan kata “Dik” kemudian secara lancar beliau melanjutkan.................“Presiden Soekarno, Bapak Proklamator RI, orator paling unggul, .......itu sebenarnya memiliki visi yang luar biasa cemerlang! Ia adalah Penyambung Lidah Rakyat! Ia tahu persis sebagai Insinyur.........Indonesia dengan geografis ribuan pulau, memerlukan penguasaan Teknologi yang berwawasan nasional yakni Teknologi Maritim dan Teknologi Dirgantara. Kala itu, tak ada ITB dan tak ada UI. Para pelajar SMA unggulan berbondong-bondong disekolahkan oleh Presiden Soekarno ke luar negeri untuk menimba ilmu teknologi Maritim dan teknologi dirgantara. Saya adalah rombongan kedua diantara ratusan pelajar SMA yang secara khusus dikirim ke berbagai negara. Pendidikan kami di luar negeri itu bukan pendidikan kursus kilat tapi sekolah bertahun-tahun sambil bekerja praktek. Sejak awal saya hanya tertarik dengan ‘how to build commercial aircraft’ bagi Indonesia. Jadi sebenarnya Pak Soeharto, Presiden RI kedua hanya melanjutkan saja program itu, beliau juga bukan pencetus ide penerapan ‘teknologi’ berwawasan nasional di Indonesia. Lantas kita bangun perusahaan-perusahaan strategis, ada PT PAL dan salah satunya adalah IPTN.

Sekarang Dik,............anda semua lihat sendiri..............N250 itu bukan pesawat asal-asalan dibikin! Pesawat itu sudah terbang tanpa mengalami ‘Dutch Roll’ (istilah penerbangan untuk pesawat yang ‘oleng’) berlebihan, tenologi pesawat itu sangat canggih dan dipersiapkan untuk 30 tahun kedepan, diperlukan waktu 5 tahun untuk melengkapi desain awal, satu-satunya pesawat turboprop di dunia yang mempergunakan teknologi ‘Fly by Wire’ bahkan sampai hari ini. Rakyat dan negara kita ini membutuhkan itu! Pesawat itu sudah terbang 900 jam (saya lupa persisnya 900 atau 1900 jam) dan selangkah lagi masuk program sertifikasi FAA. IPTN membangun khusus pabrik pesawat N250 di Amerika dan Eropa untuk pasar negara-negara itu.Namun, orang Indonesia selalu saja gemar bersikap sinis dan mengejek diri sendiri ‘apa mungkin orang Indonesia bikin pesawat terbang?’

Tiba-tiba, Presiden memutuskan agar IPTN ditutup dan begitu pula dengan industri strategis lainnya.

Dik tahu................di dunia ini hanya 3 negara yang menutup industri strategisnya, satu Jerman karena trauma dengan Nazi, lalu Cina (?) dan Indonesia.............

Sekarang, semua tenaga ahli teknologi Indonesia terpaksa diusir dari negeri sendiri dan mereka bertebaran di berbagai negara, khususnya pabrik pesawat di Bazil, Canada, Amerika dan Eropa................

Hati siapa yang tidak sakit menyaksikan itu semua.....................?

Saya bilang ke Presiden, kasih saya uang 500 juta Dollar dan N250 akan menjadi pesawat yang terhebat yang mengalahkan ATR, Bombardier, Dornier, Embraer dll dan kita tak perlu tergantung dengan negara manapun.

Tapi keputusan telah diambil dan para karyawan IPTN yang berjumlah 16 ribu harus mengais rejeki di negeri orang dan gilanya lagi kita yang beli pesawat negara mereka!”

Pak Habibie menghela nafas.......................

Ini pandangan saya mengenai cerita pak Habibie di atas;

Sekitar tahun 1995, saya ditugaskan oleh Manager Operasi (JKTOF) kala itu, Capt. Susatyawanto untuk masuk sebagai salah satu anggota tim Airline Working Group di IPTN dalam kaitan produksi pesawat jet sekelas B737 yang dikenal sebagai N2130 (kapasitas 130 penumpang). Saya bersyukur, akhirnya ditunjuk sebagai Co-Chairman Preliminary Flight Deck Design N2130 yang langsung bekerja dibawah kepala proyek N2130 adalah Ilham Habibie. Kala itu N250 sedang uji coba terus-menerus oleh penerbang test pilot (almarhum) Erwin. Saya turut mendesain rancang-bangun kokpit N2130 yang serba canggih berdasarkan pengetahuan teknis saat menerbangkan McDonnel Douglas MD11. Kokpit N2130 akan menjadi mirip MD11 dan merupakan kokpit pesawat pertama di dunia yang mempergunakan LCD pada panel instrumen (bukan CRT sebagaimana kita lihat sekarang yang ada di pesawat B737NG). Sebagian besar fungsi tampilan layar di kokpit juga mempergunakan “track ball atau touch pad” sebagaimana kita lihat di laptop. N2130 juga merupakan pesawat jet single aisle dengan head room yang sangat besar yang memungkinkan penumpang memasuki tempat duduk tanpa perlu membungkukkan badan. Selain high speed sub-sonic, N2130 juga sangat efisien bahan bakar karena mempergunakan winglet, jauh sebelum winglet dipergunakan di beberapa pesawat generasi masa kini.

Saya juga pernah menguji coba simulator N250 yang masih prototipe pertama.................

N2130 narrow body jet engine dan N250 twin turboprop, keduanya sangat handal dan canggih kala itu.........bahkan hingga kini.

Lamunan saya ini, berkecamuk di dalam kepala manakala pak Habibie bercerita soal N250, saya memiliki kekecewaan yang yang sama dengan beliau, seandainya N2130 benar-benar lahir.............kita tak perlu susah-susah membeli B737 atau Airbus 320.

Pak Habibie melanjutkan pembicaraannya....................

“Hal yang sama terjadi pada prototipe pesawat jet twin engines narrow body, itu saya tunjuk Ilham sebagai Kepala Proyek N2130. Ia bukan karena anak Habibie, tapi Ilham ini memang sekolah khusus mengenai manufakturing pesawat terbang, kalau saya sebenarnya hanya ahli dalam bidang metalurgi pesawat terbang. Kalau saja N2130 diteruskan, kita semua tak perlu tergantung dari Boeing dan Airbus untuk membangun jembatan udara di Indonesia”.

“Dik, dalam industri apapun kuncinya itu hanya satu QCD,

− Q itu Quality, Dik, anda harus buat segala sesuatunya berkualitas tinggi dan konsisten− C itu Cost, Dik, tekan harga serendah mungkin agar mampu bersaing dengan produsen sejenis− D itu Delivery, biasakan semua produksi dan outcome berkualitas tinggi dengan biaya paling efisien dan disampaikan tepat waktu!Itu saja!”

Pak Habibie melanjutkan penjelasan tentang QCD sbb:

“Kalau saya upamakan, Q itu nilainya 1, C nilainya juga 1 lantas D nilainya 1 pula, jika dijumlah maka menjadi 3. Tapi cara kerja QCD tidak begitu Dik.............organisasi itu bekerja saling sinergi sehingga yang namanya QCD itu bisa menjadi 300 atau 3000 atau bahkan 30.000 sangat tergantung bagaimana anda semua mengerjakannya, bekerjanya harus pakai hati Dik..................”

Tiba-tiba, pak Habibie seperti merenung sejenak mengingat-ingat sesuatu ...........................

“Dik, ..........saya ini memulai segala sesuatunya dari bawah, sampai saya ditunjuk menjadi Wakil Dirut perusahaan terkemuka di Jerman dan akhirnya menjadi Presiden RI, itu semua bukan kejadian tiba-tiba. Selama 48 tahun saya tidak pernah dipisahkan dengan Ainun, ...........ibu Ainun istri saya. Ia ikuti kemana saja saya pergi dengan penuh kasih sayang dan rasa sabar. Dik, kalian barangkali sudah biasa hidup terpisah dengan istri, you pergi dinas dan istri di rumah, tapi tidak dengan saya. Gini ya............saya mau kasih informasi........... Saya ini baru tahu bahwa ibu Ainun mengidap kanker hanya 3 hari sebelumnya, tak pernah ada tanda-tanda dan tak pernah ada keluhan keluar dari ibu........................”

Pak Habibie menghela nafas panjang dan tampak sekali ia sangat emosional serta mengalami luka hati yang mendalam.............................seisi ruangan hening dan turut serta larut dalam emosi kepedihan pak Habibie, apalagi aku tanpa terasa air mata mulai menggenang.

Dengan suara bergetar dan setengah terisak pak Habibie melanjutkan........................

“Dik, kalian tau.................2 minggu setelah ditinggalkan ibu............suatu hari, saya pakai piyama tanpa alas kaki dan berjalan mondar-mandir di ruang keluarga sendirian sambil memanggil-manggil nama ibu......... Ainun......... Ainun ................. Ainun ..............saya mencari ibu di semua sudut rumah.

Para dokter yang melihat perkembangan saya sepeninggal ibu berpendapat ‘Habibie bisa mati dalam waktu 3 bulan jika terus begini..............’ mereka bilang ‘Kita (para dokter) harus tolong Habibie’.

Para Dokter dari Jerman dan Indonesia berkumpul lalu saya diberinya 3 pilihan;

1. Pertama, saya harus dirawat, diberi obat khusus sampai saya dapat mandiri meneruskan hidup. Artinya saya ini gila dan harus dirawat di Rumah Sakit Jiwa!2. Opsi kedua, para dokter akan mengunjungi saya di rumah, saya harus berkonsultasi terus-menerus dengan mereka dan saya harus mengkonsumsi obat khusus. Sama saja, artinya saya sudah gila dan harus diawasi terus...............3. Opsi ketiga, saya disuruh mereka untuk menuliskan apa saja mengenai Ainun, anggaplah saya bercerita dengan Ainun seolah ibu masih hidup.

Saya pilih opsi yang ketiga............................”

Tiba-tiba, pak Habibie seperti teringat sesuatu (kita yang biasa mendengarkan beliau juga pasti maklum bahwa gaya bicara pak Habibie seperti meloncat kesana-kemari dan kadang terputus karena proses berpikir beliau sepertinya lebih cepat dibandingkan kecepatan berbicara dalam menyampaikan sesuatu) ...................... ia melanjutkan pembicaraannya;

“Dik, hari ini persis 600 hari saya ditinggal Ainun..............dan hari ini persis 597 hari Garuda Indonesia menjemput dan memulangkan ibu Ainun dari Jerman ke tanah air Indonesia.............

Saya tidak mau menyampaikan ucapan terima kasih melalui surat............. saya menunggu hari baik, berminggu-minggu dan berbulan-bulan untuk mencari momen yang tepat guna menyampaikan isi hati saya. Hari ini didampingi anak saya Ilham dan keponakan saya, Adri maka saya, Habibie atas nama seluruh keluarga besar Habibie mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya, kalian, Garuda Indonesia telah mengirimkan sebuah Boeing B747-400 untuk menjemput kami di Jerman dan memulangkan ibu Ainun ke tanah air bahkan memakamkannya di Taman Makam Pahlawan. Sungguh suatu kehormatan besar bagi kami sekeluarga. Sekali lagi, saya mengucapkan terima kasih atas bantuan Garuda Indonesia”

Seluruh hadirin terhenyak dan saya tak kuasa lagi membendung air mata..............................

Setelah jeda beberapa waktu, pak Habibie melanjutkan pembicaraannya;

“Dik, sebegitu banyak ungkapan isi hati kepada Ainun, lalu beberapa kerabat menyarankan agar semua tulisan saya dibukukan saja, dan saya menyetujui.....................

Buku itu sebenarnya bercerita tentang jalinan kasih antara dua anak manusia. Tak ada unsur kesukuan, agama, atau ras tertentu. Isi buku ini sangat universal, dengan muatan budaya nasional Indonesia. Sekarang buku ini atas permintaan banyak orang telah diterjemahkan ke beberapa bahasa, antara lain Inggris, Arab, Jepang..... (saya lupa persisnya, namun pak Habibie menyebut 4 atau 5 bahasa asing).Sayangnya buku ini hanya dijual di satu toko buku (pak Habibie menyebut nama satu toko buku besar), sudah dicetak 75.000 eksemplar dan langsung habis. Banyak orang yang ingin membaca buku ini tapi tak tahu dimana belinya. Beberapa orang di daerah di luar kota besar di Indonesia juga mengeluhkan dimana bisa beli buku ini di kota mereka.

Dik, asal you tahu............semua uang hasil penjualan buku ini tak satu rupiahpun untuk memperkaya Habibie atau keluarga Habibie. Semua uang hasil penjualan buku ini dimasukkan ke rekening Yayasan yang dibentuk oleh saya dan ibu Ainun untuk menyantuni orang cacat, salah satunya adalah para penyandang tuna netra. Kasihan mereka ini sesungguhnya bisa bekerja dengan nyaman jika bisa melihat.

Saya berikan diskon 30% bagi pembeli buku yang jumlah besar bahkan saya tambahkan lagi diskon 10% bagi mereka karena saya tahu, mereka membeli banyak buku pasti untuk dijual kembali ke yang lain.

Sekali lagi, buku ini kisah kasih universal anak manusia dari sejak tidak punya apa-apa sampai menjadi Presiden Republik Indonesia dan Ibu Negara. Isinya sangat inspiratif...................”

(pada kesempatan ini pak Habibie meminta sesuatu dari Garuda Indonesia namun tidak saya tuliskan di sini mengingat hal ini masalah kedinasan).

Saya menuliskan kembali pertemuan pak BJ Habibie dengan jajaran Garuda Indonesia karena banyak kisah inspiratif dari obrolan tersebut yang barangkali berguna bagi siapapun yang tidak sempat menghadiri pertemuan tsb. Sekaligus mohon maaf jika ada kekurangan penulisan disana-sini karena tulisan ini disusun berdasarkan ingatan tanpa catatan maupun rekaman apapun.

Jakarta, 12 Januari 2012

Salam,

Capt. Novianto Herupratomo

(dapet dari milis tetangga)

19 Desember 2011

Indahnya Ketidaktahuan

Ada sebuah kisah menarik tentang seorang mahasiswa baru di Universitas California , Berkeley, Amerika Serikat, yang datang terlambat ke kelas Prof. Neyman. Prof Jerzy Neyman (16 April 1894 – 5 Agustus 1981) adalah salah seorang guru besar matematika tingkat dunia.

Ketika mahasiswa terlambat itu sampai di ruang kelas tempat Prof. mengajar ternyata tidak ada seorangpun disana, dan di papan tulis terdapat dua soal matematika. Asumsi dari mahasiswa yang terlambat otomatis menganggap bahwa 2 tugas itu adalah tugas untuk dikerjakan di rumah. Sesampainya di rumah , ia mencoba menyelesaikan kedua soal sulit tersebut. Ternyata diperlukan waktu beberapa hari untuk menyelesaikannya. 

Keesokan harinya ia menyerahkan hasil pekerjaannya kepada Prof. Neyman dan meminta maaf atas keterlambatan penyerahan tugas tersebut karena kedua soal tersebut terasa sangat sulit dibandingkan dengan soal-soal yang biasa diberikan. Dengan sedikit rasa takut Ia bertanya kepada Prof. Neyman. apakah ia masih mau menerima pekerjaan rumah tersebut. Prof Neyman tidak begitu menanggapi dan menyuruh mahasiswa tersebut meletakan diatas meja kerjanya. Mahasiswa tersebut begitu risih karena diatas meja kerja Prof. banyak sekali kertas dan buku yang berserakan, bisa jadi pekerjaan rumah tersebut akan hilang terselip diantara kertas dan buku.

Satu setengah bulan berlalu, pada pagi hari yang cerah, sang mahasiswa ini terbangun dari tidurnya karena dikejutkan oleh suara kedoran pintu. Ternyata yang datang adalah Prof. Neyman. Dengan wajah penuh semnagat dia berkata “Saya akan mempubikasikan karyamu dalam pertemuan ilmiah Matematikawan Dunia” sambil terkejut mahasiswa itu bertanya “Ada apakah gerangan Prof?” Prof. menjawab “Tahukah kamu bahwa 2 soal yang kamu selesaikan itu adalah 2 soal statistika yang terkenal sulit dan belum pernah terpecahkan oleh seluruh matematikawan di dunia selama puluhan tahun” 

Ternyata mahasiswa ini berhasil memecahkan dua soal statistika tersulit di dunia karena salah menyakanya  sebagai soal untuk pekerjaan rumah, padahal prof menuliskannya di papan tulis hanya sebagai 'oleh-oleh' untuk mahasiswanya. Dan tahukah anda bahwa, mahasiswa ini akhirnya menjadi matematikawan terkemuka dunia, ia bernama George Dantzig (8 November 1914 -  13 Mei 2005) 

--------------------------------------------------------------------------------------------------------
Moral of the story

Banyak matematikawan tidak bisa menyelesaikan kedua soal statistik tersebut karena sudah dibebani oleh "2 soal statistika yang terkenal sulit dan belum pernah terpecahkan oleh seluruh matematikawan di dunia selama puluhan tahun" sehingga mreka sudah menganggapnya berat sebelum berjuang. Ditambah dengan rasa rendah diri dibandingkan "matematikawan dunia" yang sudah puluhan berusaha memecahkannya. Akibatnya, soal tersebut menjadi legenda bertahun-tahun sebagai soal yang tidak terpecahkan.

Bagaimana mungkin seorang mahasiswa, yang jauh kapasitasnya dibandingkan para matematikawan kelas dunia, bisa menyelesaikan soal legendaris tersebut hanya dalam beberapa hari?

Yang pertama karena mahasiswa tersebut ga tau tentang "2 soal statistika yang terkenal sulit dan belum pernah terpecahkan oleh seluruh matematikawan di dunia selama puluhan tahun" sehingga dia tidak mengenal beban  tersebut.

Kedua, dia terpacu menyelesaikan karena rasa 'bersalah' akibat terlambat mengikuti kuliah, dan berharap tugas ini bisa memperbaiki reputasinya di mata prof.


Jadi, pernahkah kita mendengar komentar, "kamu ga akan bisa"... ??
Bahkan biasanya yang lebih lengkapnya, "Kamu ga akan bisa, wong sy aja ga bisa".. ??
Hal tersebut menciptakan batasan mental yang menghalangi kita mengeluarkan kemampuan secara optimal.
Padahal yang diperlukan ga perlu banyak mikir, maju perut pantat mundur ajaa... ^_^
(by: prie tea go blog, dari berbagai sumber)

05 Desember 2011

Masa Depan Selalu Gelap, Karena itu Berbaik Sangkalah

Di masa ‘Abbasiyah akhir, negeri negeri Muslim tersekat oleh berbagai kesultanan yang berkuasa sendiri – sendiri. Yang duduk bertahta di Baghdad dan mereka sebut “Amirul Mukminin” memang masih ada. Tetapi dia tidak lebih dari pemuda manja yang diperlakukan bagai boneka oleh para sultan yang berebut pengaruh.

Kisah ini adalah sebuah sejarah kecil pada era itu. Ini kisah seorang ayah dan anak. Sang ayah bekas budak. Selama menjadi budak, libur Jum’at sebagaimana ditetapkan kesultanan dimanfaatkannya untuk habis – habisan bekerja. Dengan dirham demi dirham yang terkumpul, satu hari dia minta izin untuk menebus dirinya pada sang majikan.
“Tuan,” ujarnya, “Apakah dengan membayar harga senilai dengan berapa engkau membeliku dulu, aku akan bebas?”
“Hmm… ya, bisa.”
“Baik, ini dia,” katanya sambil meletakkan bungkusan uang itu di hadapan tuannya. “Allah ‘Azza wa Jalla telah membeliku dari Anda, lalu Dia membebaskanku. Alhamdulillah.”
“Maka engkau bebas karena Allah,” ujar sang tuan tertakjub. Dia bangkit dari duduknya dan memeluk sang budak. Dia hanya mengambil separuh harga yang tadi disebutkan. Separuh lagi diserahkannya kembali. “Gunakanlah ini,” katanya berpesan, “Untuk memuai kehidupan barumu sebagai orang yang merdeka. Aku berbahagia menjadi sebagian  Tangan Allah  yang membebaskanmu!”

Penuh syukur dan haru, tapi juga disergap khawatir, dia pamit. “Aku tidak tahu wahai tuanku yang baik,” ucapnya dengan mata berkaca – kaca, “ Apakah kebebasan ini rahmat ataukah musibah. Aku hanya berbaik sangka kepada Allah.”

Tahun demi tahun berlalu. Dia telah menikah. Tetapi sang istri meninggal ketika menyelesaikan tugasnya, menyempurnakan susuan sang putra hingga usia dua tahun. Maka dibesarkan putra semata wayangnya dengan penuh kasih. Dididiknya anak lelaki itu  untuk memahami agama dan menjalankan sunnah Nabi, juga untuk bersikap ksatria dan berjiwa merdeka.

“Anakku,” katanya di suatu pagi, “Ayahmu ini dulu seorang budak. Ayahmu ini separuh manusia di mata agama dan sesama. Tapi selalu kujaga kehormatan dan kesucianku, maka Allah memuliakanku dengan membebaskanku. Dan jadilah kita orang merdeka. Ketahuilah Nak, orang bebas yang paling merdeka adalah dia yang bisa memilih caranya untuk mati dan menghadap Illahi!”

“Ketahuilah,” lanjutnya, “Seorang yang syahid di jalan Allah itu hakikatnya tak pernah mati. Saat terbunuh, dia akan disambut oleh tujuh puluh bidadari. Ruhnya menanti kiamat dengan terbang kesana kemari dalam tubuh burung hijau di taman surge, dan diizinkan baginya member syafa’at bagi keluarganya. Mari kita rebut kehormatan itu, Nak, dengan berjihad lalu syahid di jalanNya!”

Sang anak mengangguk – angguk.
Sang ayah mengeluarkan sebuah kantung berpelisir emas. Dinar – dinar di dalamnya bergemerincing. “Mari mempersiapkan diri”, bisiknya. “Mari kita beli yang terbagus dengan harta ini untuk dipersembahkan dalam jihad di jalanNya. Mari kita belanjakan uang ini untuk mengantar kita pada kesyahidan dengan sebaik – baik tunggangan.”

Siangnya, mereka pulang dari pasar dengan menuntun seekor kuda perang berwarna hitam. Kuda itu gagah. Surainya mekar menjumbai. Tampangnya mengagumkan. Matanya berkilat. Giginya rapid an tajam. Kakinya mekar dan kukuh. Ringkiknya pasti membuat kuda musuh bergidik.
Semua tetangga datang untuk mengaguminya. Mereka menyentuhnya, mengelus surainya. “Kuda yang hebat!” kata mereka. Kami belum pernah melihat kuda seindah ini. Luar biasa! Mantap sekali! Berapa yang kalian habiskan untuk membeli kuda ini?”

Anak beranak itu tersenyum simpul. “Yah, itu simpanan yang dikumpulkan seumur hidup.”
Para tetangga ternganga mendengar jumlahnya. “Wah”, seru mereka, “Kalian masih waras atau sudah gila? Uang sebanyak itu dihabiskan untuk membeli kuda? Padahal rumah kalian reot nyaris roboh. Untuk makan besok pun belum tentu ada!” Kekaguman mereka di awal tadi berubah menjadi cemo’oh. “Tolol!” kata salah satu. “Tak tahu diri!” ujar yang lain. “Pandir!”

“Kami tak tahu, ini rahmat atau musibah. Tapi kami berprasangka baik kepada Allah,” ujar mereka.

Para tetangga pulang. Ayah dan anak itu pun merawat kudanya dengan penuh cinta. Makanan si kuda dijamin kelengkapannya; rumput segar, jerami kering, biji – bijian, dedak, air segar, kadang bahkan ditambah madu. Si kuda dilatih keras, tapi tak dibiarkan lelah tanpa mendapat hadiah. Kini mereka tak hanya berdua, melainkan bertiga. Bersama – sama menanti panggilan Allah di medan jihad untuk menjemput takdir terindah.

Sepekan berlalu. Di sebuah pagi buta ketika si ayah melongok ke kandang, dia tak melihat apapun. Kosong. Palang pintunya patah. Beberapa jeruji kayu terkoyak remuk.
“Kuda itu hilang!”

Berduyun – duyun para tetangga datang untuk mengucapkan bela sungkawa. Mereka bersimpati pada cita tinggi kedua anak ayah itu. Tapi mereka juga menganggap keduanya kelewatan. “Ah, sayang sekali!” katan mereka, “Padahal itu kuda terindah yang pernah kami lihat. Kalian memang tidak beruntung. Kuda itu hanya hadir sejenak untuk memuaskan ambisi kalian, lalu Allah membebaskannya dan mengandaskan cita – cita kalian!”

Sang ayah tersenyum sambil mengelus kepala anaknya. “Kami tak tahu,” ucap keduanya serempak, “Ini rahmat atau musibah. Kami hanya berprasangka baik kepada Allah.”

Mereka pasrah. Mereka mencoba untuk menghitung – hitung uang dan mengira – ngira, kapan bisa membeli kuda lagi. “Nak”, sang ayah menatap mata putranya, “Dengan atau tanpa kuda, jika panggilan Allah datang, kita harus menyambutnya.” Si Anak mengangguk mantap. Mereka kembali bekerja tekun seakan tak terjadi apapun.

Tiga hari kemudian, saat subuh menjelang, kandang kuda mereka gaduh dan riuh. Suara ringkikan bersahut – sahutan. Terkejut dan jaga, ayah dan anak itu berlari ke kandang sambil membenahi pakaiannya. Di kandang itu mereka temukan kuda hitam yang gagah bersurai indah. Tak salah lagi, itu kuda mereka yang pergi tanpa pamit tiga hari yang lalu!

Tapi kuda itu tak sendiri. Ada belasan kuda lain bersamanya. Kuda – kuda liar! Itu pasti kawan – kawannya. Mereka datang dari stepa luas untuk bergabung di kandang si hitam. Mungkinkah kuda punya akal jernih? Mungkinkah si hitam yang merasa mendapatkan layanan terbaik di kandang seorang bekas budak mengajak kawan – kawannya bergabung? Atau tahukah mereka bahwa mendatangi kandang itu berarti bersiap bertaruh nyawa untuk kemuliaan agama Allah, kelak jika panggilanNya berkumandang? Atau memang itu yang mereka inginkan?

“Bertasbih kepada Allah, segala yang di langit dan di  bumi. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Q.S Ash Shaff [61]: 1)

Ketika hari terang, para tetangga datang dengan takjub. “Luar biasa!” kata mereka. “Kuda itu pergi untuk memanggil kawan – kawannya dan kini kembali membawa mereka menggabungkan diri!” Mereka semua mengucapkan selamat pada pemiliknya.

“Wah, kalian sekarang kaya raya! Kalian orang terkaya di kampung ini!” Tapi si pemilik hanya tersenyum.

“Kami tak tahu, ini rahmat atau musibah. Kami hanya berprasangka baik kepada Allah.”

Hari berikutnya dengan bahagia, sang putra mencoba menaiki salah seekor kuda itu. Sukacita dia memacunya ke segala penjuru. Satu saat, kuda liar itu terkejut ketika berpapasan dengan seekor lembu yang lepas dari kandang di persimpangan. Dia meronta keras, dan sang penunggang terbanting. Kakinya patah. Dia meringis kesakitan.

Para tetangga datang menjenguk. Mereka menatap anak itu dengan pandangan penuh iba. “Kami turut prihatin,” kata mereka. “Ternyata kuda itu tidak membawa berkah. Mereka dating membawa musibah. Alangkah lebih beruntung yang tak memiliki kuda, namun anaknya sehat sentausa!”
Tuan rumah tersenyum lagi. “Kami tak tahu, ini rahmat atau musibah. Kami hanya berprasangka baik kepada Allah.”

Hari berikutnya, hulubalang raja berkeliling negeri. Dia mengumumkan pengerahan pasukan untuk menghadapi tentara musuh yang telah menyerang perbatasan. Semua pemuda yang sehat jasmani dan rohani wajib bergabung untuk mempertahankan negeri. Sayang, perang ini sulit dikatakan sebagai jihad di jalan Allah karena musuh yang hendak dihadapi adalah sesama Muslim. Mereka hanya berbeda kesultanan.

“Nak,” bisik sang aah ke telinga sang putra yang terbaring tak berdaya, “Semoga Allah menjaga ita dari menumpahkan darah sesama Muslim. Allah Maha Tahu, kita ingin berjihad di jalanNya. Kita sama sekali tak hendak beradu senjata dengan orang – orang beriman. Semoga Allah membebaskan diri kita dari beban itu!” Mereka berpelukan.

Petugas pendaftaran mendatangi tiap rumah dan membawa para pemuda yang memenuhi syarat. Saat memasuki rumah sang ayah dan anak pemilik kuda, mereka mendapati putranya terbaring di tempat tidur dengan kaki terbebat, disangga kayu dan dibalut kain.

“Ada apa dengannya?”
“Tuan prajurit,” kata sang ayah, “Anak saya ini begitu ingin membela negeri dan dia telah berlatih untuk itu. Tetapi kemarin dia jatuh dari kuda ketika sedang mencoba menjinakkan kuda liar kami. Kakinya patah.”
“Ah, sayang sekali!” kata sang Hulubalang. “Padahal kulihat dia begitu gagah. Dia pasti akan menjadi seorang prajurit tangguh. Tapi baiklah. Dia tak memenuhi syarat. Maafkan aku, aku tak bisa mengikutsertakannya!”

Dan hari itu, para tetangga yang ditinggal pergi putra – putranya menjadi prajurit mendatangi si pemilik kuda. “Ah, nasib!” kata mereka. “Kami kehilangan anak – anak lelaki kami, tumpuan harapan keluarga. Kami melepas mereka tanpa tahu apakah mereka akan kembali atau tidak. Sementara putramu tetap bisa di rumah karena patah kakinya. Kalian begitu beruntung! Allah menyayangi kalian!”

Tuan rumah ikut bersedih melihat mendung di wajah – wajah itu. Kali ini ayah dan anak itu tersenyum. Tapi ucapan mereka kembali bergema, “Kami tak tahu, ini rahmat atau musibah. Kami hanya berprasangka baik kepada Allah.”

Sebulan kemudian, kota itu dipenuhi ratapan para ibu dan isak tangis para istri. Sementara para lelaki hanya termangu dan tergugu. Kabarnya telah jelas. Semua pemuda yang diberangkatkan perang tewas di medan tempur. Tapi agaknya para warga telah belajar banyak dari ayah beranak pemilik kuda. Seluruh penduduk kota kini menggumamkan kalimat indah itu. “Kami tak tahu ini rahmat atau musibah. Kami hanya berprasangka baik kepada Allah.”

Singkat kisah, tak berapa lama kemudian panggilan jihad yang sebenarnya bergema. Pasukan Mongol dipimpin Hulagu Khan menyerbu wilayah Islam dan membumihanguskannya hingga rata dengan tanah. Orang – orang tak berperikemanusiaan itu mengalir bagai air bah meluluhlantakkan peradaban. Ayah dan anak itu pun menyongsong janjinya. Mereka bergegas menyambut panggilan denga kalimat agungnya, “Kami tak tahu ini rahmata atau musibah. Kami hanya berprasangaka baik kepada Allah!”

Mereka memang menemui syahid. Tapi sebelum itu, ada selaksa nikmat yang Allah karuniakan kepada mereka untuk dirasai. Sang anak pernah tertangkap pasukan Mongol dan dijual sebagai budak. Dia berpindah – pindah tangan hingga kepemilikannya jatuh pada Al Kamil, seorang sultan Ayyubiyah di Kairo. Ketika pemerintahan Mamluk menggantikan wangsa Ayyubiyah di Mesir, karienya menanjak cepat dari komandan kecil menjadi panglima pasukan, lalu Amir wilayah. Terakhir setelah wafatnya Az Zahir Ruknuddin Baibars, dia diangkat menjadi Sultan. Namanya Al Manshur Saifuddin Qalawun.

Inilah sekelumit kisah tentangnya. Qalawun yang berani berprasangka baik dalam segala keterhijaban. Qalawun yang berani berkata, “Kami tak tahu ini rahmat atau musibah. Kami hanya berprasangka baik kepada Allah!” Seperti kisahnya, dalam dekapan ukhuwah, ada berjuta kebaikan mengiringi prasangka baik padaNya. Dia setia bersama kita dan melimpahkan kebaikan, karena kita mengingatNya juga dengan sangkaan kebaikan.

Disadur dari buku "Dalam Dekapan Ukhuwah", Salim A. Fillah, Pro-U-Media.
Baca kisah-kisah menakjubkan lainnya di bukunya langsung ya.. ^_^ 

Catatan tambahan:
Qawalun adalah salah satu anglima perang Sultan Baibars ketika mematahkan serbuan bangsa Mongol ke Palestina dalam peperangan Ain Jalut pada tanggal 3 September 1260. Kemenangan ini merupakan “balasan” terhadap bangsa Mongol yang sebelumnya menghancurkan Baghdad sebagai pusat kilafah Islam.

Perang ini merupakan peristiwa besar dalam sejarah Islam dan merupakan kemenangan pertama yang berhasil dicapai oleh kaum muslimin terhadap orang-orang Mongolia. Mereka berhasil menghancurkan mitos yang mengatakan bahwa tentara Mongol tidak pernah terkalahkan. Setelah kemenangan ini, nilai tambah terhadap Dinasti Mamluk adalah bersatunya kembali Mesir dan Syam di bawah naungan Sultan Mamluk setelah mengalami perpecahan pada masa sultan-sultan keturunan Salahuddin Al-Ayyubi. (Prie Tea Go Blog)

13 Oktober 2011

Hukuman Langit

Dalam hadits riwayat Ibnu Majah Rasulullah saw bersabda :

"Wahai segenap Muhajirin, ada lima hal yang membuat aku berlindung kepada Allah swt dan aku berharap kalian tidak mendapatkannya.

Pertama, tidaklah perbuatan zina tampak pada suatu kaum sehingga mereka akan tertimpa bencana wabah dan penyakit yang tidak pernah ditimpakan kepada orang-orang sebelum mereka.

Kedua, tidaklah suatu kaum mengurangi takaran dan timbangan melainkan mereka akan tertimpa paceklik, masalah ekonomi dan kedurjanaan penguasa.

Ketiga, tidaklah suatu kaum menolak membayar zakat melainkan mereka akam mengalami kemarau panjang. Sekiranya tidak karena binatang, niscaya mereka tidak akan diberi hujan.

Keempat, tidaklah suatu kaum melakukan tipuan (ingkar janji) melainkan akan Allah swt utus kepada mereka musuh yang akan mengambil sebagian yang mereka miliki.

Kelima, tidaklah para imam (pemimpin) mereka meninggalkan (tidak mengamalkan Al-Qur'an) melainkan akan Allah swt jadikan permusuhan antar mereka."